Posted by : Agen Casino Mejaemas
Senin, 22 Juni 2020
Tinggal Berdua Sambil Urus Istri Lumpuh, Kakek 80 Tahun Ini Tetap Giat Keliling Jual Martabak

Usia tua dan keterbatasan fisik tidak membatasi seseorang untuk giat mencari nafkah.
Satu diantaranya ada Muchtar yang kini menginjak usia 80 tahun. Tidak muda lagi memang, namun usia tidak menghalanginya semangat untuk mengais rezeki.
Sehari-harinya, pria yang akrab dipanggil Kakek Muchtar ini menjajakan martabak telur olahannya dengan berkeliling sambil mendorong gerobaknya dari satu desa ke desa lain. Bahkan, hingga ke pusat kota dengan jarak belasan kilometer setiap harinya."Saya sudah berjualan martabak sudah 55 tahun. Istri saya sakit stroke, makanya saya harus tetap berjualan. Kami berdua tidak memiliki anak, kadang berpikir saya sampai berapa tahun lagi sanggup berjualan dengan keadaan seperti ini," ungkap Muchtar kepada Tribun Medan, Senin (22/6/2020).
Fisik Kakek ini tidak dapat dibilang sehat secara sempurna. Penyakit osteoporosis yang dideritanya sejak 7 bulan belakangan ini, membuatnya harus berjalan sedikit bungkuk.
Tak jarang ia harus istirahat sejenak setelah mendorong gerobaknya beberapa meter untuk menghilangkan rasa sakitnya."Saya sakit juga, saya sudah penyakit tulang keropos. Kalau tidak pakai penyangga tidak bisa. Ini saja sudah satu juta biayanya. Untuk berobat ke RS Setia Budi, ongkos becak lagi," ucapnya.
Kakek Muchtar sendiri menghabiskan biaya berobat berkisar Rp 700 ribu untuk sekali pengobatan.
Ia menuturkan bahwa untuk berobat ini wajib tiap satu bulan sekali atau dua minggu sekali jika sedang memiliki rezeki.
Saat ditemui Tribun Medan, Muchtar sedang beristirahat di samping gerobaknya tepatnya di pinggir Jalan Medan - Batang Kuis, Kecamatan Percutseituan, Deliserdang sambil sesekali membunyikan lonceng jualannya.
Gerobak Muchtar terlihat sederhana dengan bercat hijau. Hanya ada kulit martabak dan beberapa bahan seperti cabai merah, daun bawang, bumbu kari olahannya dan sebuah tungku.
Ia menuturkan bahwa dalam pengelolaan martabaknya ini ia masih mengandalkan arang sebagai bahan bakar.
"Lebih enak pakai arang. Kalau pakai gas kurang suka karena panasnya instan. Kalau pakai arang lebih khas dia. Ini saja sudah terasa aromanya," tuturnya sambil sesekali membolak balikkan arang agar nyala api tetap terjaga.Martabak telur Kek Muchtar dijual dengan harga Rp 12 ribu untuk per porsinya. Setiap harinya, kakek ini menjual 30 porsi dengan mulai berkeliling mendorong gerobaknya pada pukul 11 pagi dan pulang hingga pukul 8 malam baru sampai di rumah.
Untuk menghabiskan 15 hingga 30 porsi, Kakek Mochtar harus mendorong gerobak ke tengah kota seperti di Jalan Thamrin, Jalan Asia hingga ke arah Balai Kota.
Ia juga mengungkapkan bahwa ketika penyakit osteoporosisnya kumat, mau tidak mau ia harus digotong menggunakan becak hingga sampai ke rumah.
"Untuk jualan ini semana sempat saya jalan. Kadang saya pulang naik becak, itu kalau kaki sudah kumat tidak tahan lagi. Daripada saya pingsan di tengah jalan, bagus saya naik becak saja," ungkapnya.
Tidak jarang, Muchtar harus permisi untuk menumpang istirahat sejenak di lingkungan penduduk untuk memulihkan kondisi fisiknya. Makanya, Muchtar selalu mengantisipasi dengan membawa kursi kemanapun ia berjualan sebagai tempat duduknya kala beristirahat.
Merawat Istri yang Lumpuh
Di rumahnya yang terletak di Jalan Sidomulyo, Gang Kemuning, Pasar IX Tembung, Kecamatan Percutseituan ini, Muchtar tinggal di rumah 12x6,5 m dengan beratapkan seng dan berdinding semen.
Di rumah ini, ia tinggal berdua dengan istrinya, Ana Pohan (56) yang mengalami kelumpuhan tangan dan kaki kiri sejak 3,5 tahun yang lalu.
Muchtar sempat bercerita bahwa ia hampir menjual rumah untuk biaya pengobatan istri yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.
"Kondisi istri saya belum baik-baik ini. Berobat sana-sini akhirnya habis duit. Hampir saja kami menjual rumah. Kalau itu dijual, kemanalah kami harus tinggal. Sampai sekarang berobat jalan sajalah," ujar Muchtar.
Kini, Muchtar bersyukur ada adik iparnya yang membantunya sejak satu tahun belakangan ini.
Sebelumnya, dua tahun Muchtar mengurus segala keperluan mulai dari masak dan mencuci baju di pagi hari dan berjualan jelang siang hingga malam hari.
"Saya masak dan juga mencuci. Semua lah di rumah itu. Saya masak untuk makan dia, kalau enak tidak enak saya tidak tahu. Pagi saya merawat dia, siang baru berjualan. Capek, mengantuk mata. Kalau jualan ini kadang mata terbayang-bayang saking mengantuknya ini. Jadi daripada bahaya, saya pelan-pelan," ujar Kek Mochtar.
Dulunya, Muchtar dan Ana saat masih sehat giat berjualan. Muchtar berjualan martabak telur dan Anak berjualan pecal. Ia mengakui jika jualan dulu sangat laris karena kelezatannya.
"Dulu kami sehat dua-duanya. Dia jual pecal, saya jual martabak. Enak pecal dia, makanya lagu saja. Berapa kilo yang terjual selalu habis. Pecal dia enak, namun sekarang sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya di rumah saja," tuturnya.
Ana kini hanya dapat duduk di ruang tamu rumahnya dengan ditemani televisi sebagai hiburannya sampai menunggu suami pulang berjualan.
Sesekali Ana berlinang air mata mengingat kondisinya yang dulu dapat berjualan, kini hanya mengandalkan martabak suaminya.
"Kadang saya berpikir, apa masih bisa saya sembuh ya. Dulu saya giat mencari uang biar bisa Umrah tapi kondisi lumpuh seperti ini seperti pupus harapan saya," ungkap Ana kepada Tribun Medan.
Sehari-hari, Ana ditemani oleh adiknya yang mengurus segala keperluan mulai dari masak, mandi, hingga mengganti popok lantaran ia tidak bisa bergerak leluasa lagi.
"Kalau lumpuh ini belum mati total syarafnya, masih kadang terasa namun kaki tidak bisa digerakkan. Kadang ngilu gitu. Saya juga kadang kusuk sebulan sekali kalau lagi ada uang. Saya selalu berdoa agar ada harapan untuk sembuh," tutur Ana.
Pantang Mengemis
Di usia senja dan hidup serba kekurangan bagi beberapa orang mungkin mengambil jalan pintas untuk meminta-minta mengharapkan rasa iba orang lain.
Namun, Kakek ini dengan tegas tidak akan melakukan hal seperti itu dalam hidupnya tanpa melakukan usaha.
"Ooh tidak pernah saya minta-minta kepada orang. Saya berpikir yang penting saya jualan, mengurus orang rumah dengan ikhlas dunia akhirat," ungkapnya.
Ia mengungkapkan tidak akan pernah mengemis lantaran ia dulu sempat menduduki bangku kuliah.
"Malu saya minta-minta seperti itu, saya dulu orang kuliah. Namun karena orang tua susah akhirnya berhenti di tengah jalan. Saya dulu kuliah jurusan Hukum di Nomensen. Kalau mengenai teori hukum sudah mengertilah," kata Muchtar. posting by

