Minggu, 07 Januari 2018

Pedofilia Terjadi Akibat Pelakunya Alami Kelainan Saraf Otak


marina-365.net - Kasus pedofilia masih marak terjadi di Indonesia. Baru-baru ini kasusnya terulang kembali di Tangerang, Banten yang melibatkan 41 korban.

Namun tak banyak orang tahu penyebab hal itu bisa terjadi. Gangguan ini didefinisikan sebagai hasrat seksual yang melenceng, yakni orang dewasa suka dengan anak-anak di bawah usia 14 tahun.

Beberapa ahli mengungkap penyebab pedofil dipengaruhi oleh perkembangan saraf. Ada perbedaan dalam struktur otak dari pedofil yang telah mengalami perubahan.

Penelitian menyebutkan, perbedaan ini mirip dengan orang-orang dengan dorongan kontrol gangguan, seperti OCD, kecanduan dan antisosial gangguan kepribadian. Pedofilia bisa menjadi produk sampingan lain dari co-morbid penyakit.

Ada kelainan otak yang mungkin telah dibentuk secara tidak wajar. Umumnya terjadi karena pengalaman traumatis yang menyebabkan gangguan neurologis.

Kondisinya seorang pedofil memiliki kelainan otak di temporal lobus. Sebabnya banyak serotonin agonis ditemukan berbeda. Ada juga sebagian pelaku mengalami kelainan kromosom di tubuhnya, sehingga mengalami hal itu.

Pelakunya hampir 93% melakukan pelecehan seksual di kalangan usia anak-anak. Orang dewasa laki-laki yang melakukan hal keji itu. Perilaku menyimpang tersebut sayangnya masih banyak terjadi di Indonesia.

Pedofil juga bisa dianggap sebagai penyakit gangguan mental yang mengganggu banyak orang. Secara utuh mereka melanggar hukum yang berlaku.

Hampir 61% seorang pedofil mengulangi perbuatan kejinya. Seperti disebutkan sebelumnya, pedofil memiliki lebih rendah IQ dari orang lain. Beberapa teori menyebutkan, seorang pedofil telah ditangkap psikoseksual atau bentuk pengembangan stres.

Bayangkan, banyak pedofil melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak. Mereka tidak peduli dengan motif kejahatan yang dilakukan.

Pedofilia mirip dengan beberapa gangguan kepribadian karena individu dengan gangguan sangat egois, memperlakukan anak-anak seperti objek atas kesenangannya pribadi. Dengan tekanan emosional, pelakunya juga bisa menganiaya anak-anak.

Perbuatan keji ini seharusnya diperjelas hukumannya supaya mereka menyesal. Kalau tidak segera diberantas, kasus serupa mudah saja terjadi kapanpun. Anak-anak yang menjadi korban pasti terancam dengan masalah tersebut. Demikian dilansir Propsychcentral, Sabtu (6/1/2018).

Posting By